oleh

DJAGA DEPARI MERAJUT SEPI

-Ragam-840 views

klikmedan.id – Jika anda lewat simpang empat, Jl. Iskandar Muda arah ke Brastagi lewat Jl. Jamin Ginting. Coba pandangan anda melirik ke sebelah kanan. Di situ berdiri sebuah patung. Ya,itulah sosok komponis besar dari Tanah Karo.

Siapa sebenarnya beliau?
Djaga Sembiring Depari adalah seorang komponis otodidak dari Tanah Karo. Beliau lahir di Desa Siberaya pada 5 Mei 1922. Dan wafat 15 Juli 1963. Selama hayat beliau telah menghasilkan lagu-lagu Karo, yang bernafas cinta, alam, dan perjuangan,
rakyat Karo mengusir penjajah. Konon Letjen Jamin Ginting menjadikan komposisi lagu-lagu Djaga sebagai elan yang terus membara di dada. Untuk penyemangat dalam mempertahankan kedaulatan kemerdekaan bangsa ini.

Lagu yang paling dikenal orang dari anak dari Ng. Sembiring Depari dan S. Br Karo Sekali ini adalah Piso Surit. Padahal ada beberapa lagu yang tak kalah menarik, seperti Erkala Bedil, Sora Mido, dan ratusan karya beliau yang lembut menyayat.

Tentang Piso Surit
Banyak orang mengapresiasi bahwa lagu tetsebut adalah lagu bertema perjuangan. Namun apabila kita cermati Piso Surit adalah penggambaran seorang yang sedang jatuh cinta pada kekasihnya. Hal ini perlu menjadi penelitian yang lebih mendalam tentunya. Istilah Piso sendiri orang banyak mengartikan sebagai pisau, perkakas yang digunakan untuk mengupas atau mengiris bumbu dapur.
Pada literatur yang lain ada yang mengartikan piso surit adalah sejenis burung yang cuma ada di hutan rimba Karo. Disini akan saya nukilkan kata-kata dari lagu tersebut dengan terjemahan bebas ke dalam bahasa Indonesia.

Piso surit/piso surit/lalap la jumpa atena ngena/ija kena tengahna gundari/siang ma enda lirang aten wari/etabih rang mata kena tertendih/(Memanggil-manggil, meratapi kekasih hatinya. Dimanakah kau saat ini. Hari beranjak siang. Hanya meneteskan airmata.

Jika piso surit dijadikan lagu perjuangan. Barangkali si pemuda tersebut memang tengah berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan negeri ini. Di medan laga si pemuda tadi mengungkapkan rasa kerinduannya kepada sang pujaan hatinya lewat nyanyian. Barangkali.

Inilah sepenggal kisah Monumen patung Djaga Depari. Patung ini berdiri di sebuah taman kota. Tepatnya di simpang empat Jl. Iskandarmuda Jl. Jamin Ginting. Jl. Patimura. Dan Jl. KH. Wahid Hasyim. Kel. Merdeka Kec. Medan Baru. Kota Medan. Patung tersebut menggambarkan sang komponis nasional dari tanah karo sedang menggesek biola. Ditengah-tengah hiruk-pikuk lalu-lintas yang panas dan kering. Beliau seperti tengah memainkan komposisi piso surit yang menyayat kalbu.

Komentar

News Feed