oleh

Tanggapan Pengamat Soal Gaya Khas  Bobby Nasution Saat Sidak

klikmedan.id || MEDAN.
Tidak hanya bekerja dari balik meja, Wali Kota Medan Bobby Nasution juga selalu turun langsung ke lapangan guna melihat, mendengar dan mengetahui berbagai persoalan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Kerap melakukan sidak, menjadi salah satu gaya kepemimpinannya. Dengan begitu ia dapat dengan cepat mengambil langkah dan tindakan yang tepat.Seperti yang dilakukan Bobby Nasution, Rabu (16/2). Saat meninjau pelaksanaan vaksinasi anak 6-11 tahun di SD Negeri 060898 di Jalan Brigjen Katamso Gg Balai Desa, Kecamatan Medan Maimun, orang nomor satu di Pemko Medan itu menemukan adanya pungutan liar (pungli) terhadap Program Indonesia Pintar (PIP). Sebab, sejumlah orang tua mengaku dimintai pihak sekolah sebesar Rp.20.000 hingga Rp.50.000 berdalih uang transport.

Praktik pungli ini pun diketahui Bobby Nasution saat sejumlah orang tua siswa mendatangi dan mengadukan soal permintaan uang transport kepadanya. Meski mengaku bersyukur karena menerima bantuan PIP, namun para orang tua tersebut mengeluhkan permintaan kepala sekolah sebesar Rp.20.000 hingga Rp.50.000 berdalih uang transport.

Mendengar pengaduan tersebut, Bobby Nasution langsung meminta kepala sekolah untuk mengembali kan uang yang telah dipungutnya tersebut. “Paling lambat uang itu besok sudah harus dikembalikan,” tegas Bobby Nasution seraya menginstruksikan  Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Medan memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.

Gaya kepemimpinan Bobby Nasution dalam melakukan sidak tersebut diapresiasi akademisi Universitas Pembangunan Panca Budi Dr Rahima Br Purba SE MSi Ak CA. Dikatakan Rahima, apa yang dilakukan Bobby Nasution memang sesuatu yang seharusnya dilakukan. Seorang pimpinan birokrasi, sambung Rahima, selain melaksanakan kerja untuk kepentingan masyarakatnya secara luas, juga melakukan pembenahan di jajarannya. “Artinya, celah yang terjadi di jajaran merupakan cerminan dari kesalahan pimpinan dan dalam hal ini sejumlah kasus yang dilakukan ASN di lingkungan Pemko Medan jelas menjadi tanggungjawab Wali Kota. Namun, tradisi sidak yang dilakukan adalah hal yang baik,” ujar Rahima.

Rahima menilai, gaya kepemimpinan seperti yang dilakukan Bobby Nasution itu menjadi sesuatu yang diharapkan masyarakat. Hanya saja, perlu dilakukan secara elegan dan humanis. Dengan demikian, muncul sosok pimpinan yang tak hanya dicintai rakyatnya, tapi juga disegani jajarannya.  “Ingat disegani, bukan ditakuti karena takut dicopot, takut dimutasi. Karena manusia memang tempatnya salah dan tak ada kesalahan yang tak bisa diperbaiki selama ada niat dan ada koridor yang jelas dari seorang pimpinan,” tambahnya.

Jika Bobby Nasution mampu mempertahankan gaya kepemimpinannya ini, imbuh Rahima, optimis Pemko Medan bisa menjadi pilot project bagi seluruh kepala daerah di Indonesia. “Jika ditanya apa yang harus dilakukan Pak Bobby dalam mewujudkan reformasi birokrasi, kuncinya yakni hapus kesenjangan dan tekan kolusi yang sangat memungkinkan terjadinya korupsi,” ungkapnya.

Selain itu, Rahima menambahkan, dalam menjalankan kepemimpinan, tidak mengedepankan nepotisme, termasuk di lingkungan keluarga atau kerabat. Karena hal ini yang dikhawatirkan malah bisa mencoreng citra kepemimpinan Bobby Nasution. “Walau perlahan, karena mengingat budaya kolusi dan nepotisme di Medan ini sudah berlangsung lama, kami yakin Pak Wali bisa melakukannya,” ujarnya optimis.(Sr)

Komentar